• Komentar

  • Recent post

  • Kategori

  • Meta

Tim Redaksi

Dari Redaksi

ROBOHNYA MASJID KAMI

Akhir tahun 2007 menyisakan persoalan yang sulit dilupakan oleh masyarakat Ngawi. Pada Tahun 2007 kita diingatkan oleh dua persoalan penting. Pertama, kebingungan masyarakat kota Ngawi untuk menjalankan Sholat Iedul Fitri di Masjid Agung yang menjadi kebanggaan cultural dan spiritual masyarakat muslim sekaligus. Kedua, datangnya bencana yang dahsyat berupa banjir yang hampir menenggelamkan separo wilayah Ngawi. Jerit tangis masyarakat Ngawi dari Ujung Kwadungan sampai Mantingan terdengar begitu lantang sampai Ngawi menjadi pusat pemberitaan nasional. Ironisnya, peristiwa tersebut menutup dalam-dalam kegelisahan masyarakat Ngawi yang sekarang ”tidak punya masjid ”.

Kegelisahan masyarakat tersebut sebenanya sudah dimanifestasikan dengan berkumpulnya para masyayikh dan Ulama Ngawi di rumah salah seorang Kyai sepuh yang mempertanyakan bagaimana mungkin Pemerintah Kabupaten Ngawi mengeluarkan kebijakan kontroversial yang dapat melukai hati dan perasaan umat Islam. Dalam pandangan Islam, membangun masjid perlu memperhatikan kaidah dan syara’ Islam. Membangun masjid tidak bisa dengan merobohkan total bangunan Masjid dalam waktu sekaligus. Perobohan bangunan lama dilakukan secara bertahap dengan menyisakan sebagian bangunan agar proses beribadah dimasjid tidak ikut terhenti hanya karena proses rehab masjid. Ibadah sholat lima waktu serta sholat jum’at dimasjid Jami’ tidak boleh dihentikan hanya gara-gara memenuhi sayahwat APBD yang ingin merenovasi habis seluruh bangunan masjid. Prinsip-prinsip dan syara’ Islam disini tidak dihormati oleh kebijakan pemerintah yang kurang memperhatikan nilai dan tradisi yang diwarisi umat muslim. Disini Pemerintah Kabupaten harus menjelaskan sekaligus meminta maaf kepada umat Islam karena kegiatan spiritual-peribadatan dimasjid jami’ ”Baiturrahman” harus terhenti karena proses rehab masjid.

Beberapa teman di Jakarta dan di Surabaya menyindir kami dengan bahasa yang sangat keras. Terkait masalah masjid, mereka menuduh kami tidak punya kepedulian spiritual. Hal ini terbukti tidak ada satupun yang berteriak dengan lantang mengapa masjid kami dirobohkan. DPRD yang seharusnya punya kepekaan sosial juga sangat tidak peduli, mereka begitu asyik dengan permainan anggaran.

Teman di Jakarta misalnya, mereka menyimpulkan bahwa Umaro’ di Kabupaten Ngawi merupakan bagian dari kelompok Islam garis keras yang anti terhadap segala bentuk peninggalan dan prasasti Islam Tradisional termasuk salah satunya Masjid Jami’ Ngawi. Sebagian Teman di Jakarta bahkan menyimpulan bahwa robohnya Masjid jami’ Ngawi adalah bentuk dari bangkitnya ”kezaliman modern” yang tidak menginginkan kehidupan Umat Islam menjadi lebih baik di masa depan.

Tapi, Kami sebagai warga ngawi Cuma bisa tersenyum kecut sambil mengelus dada ”astaghfirllah”. Dengan mata hati yang jernih dan kesabaran yang sangat tinggilah kami masih mendiamkan perilaku dan segala bentuk kepentingan yang ada di balik perobohan masjid.

Begitu masyarakat ngawi menjadi sangat pemaaf disaat negara telah merobohkan sendi-sendi kebanggan spiritual mereka yang dijadikan alat ”kapital” dari permainan anggaran.

Kedua: tragis memang. Birokrat kita sudah mati rasa dan hatinya sehingga tidak mampu membedakan mana urusan publik yang berkaitan dengan kepentingan mayoritas umat muslim. Sehingga Masjid pun menjadi ”proyek mercusuar” yang dianggap akan mendatangkan pundi-pundi keuntungan.