BULETIN KESETARAAN
|
Edisi I / 2008 |
Al – MUSAWA
|
|
Bergerak mendorong Persamaan Hak Asasi Manusia |
dari redaksi…………
Ngawi Terancam Krisis Pangan
Surya, Kamis 3 Januari 2008
Pasca banjir empat hari empat malam yang lalu, kabupaten Ngawi bisa mengalami krisis pangan. Pasalnya, banjir telah menggenangi sekitar 90.000 hektare lahan pertanian sekaligus menyebabkan puso padi di lahan-lahan tersebut.
Apalagi, 11 wilayah kecamatan di Ngawi yang sempat terendam banjir merupakan wilayah lumbung padi. Misalnya, kecamatan Kwadungan, Geneng, Ngawi, Padas, Paron dan kecamatan Pitu. Pantauan surya, Rabu (2/1), tampak batangbatang padi yang rata-rata berusia antara satu-dua bulan telah menjadi kering. Daun-daun padi itu menguning.Para petanipun membabat tanaman padi mereka yang dipastikan gagal panen. Sebagian petani membiarkan lahan tanaman padi mereka membusuk, lantaran mereka masih sibuk membersihkan dan membenahi rumah yang baru saja diterjang banjir.
Ranem seorang petani asal Desa Sumengko, kecamatan Kwadungan mengaku terpaksa memotongi tanaman padinya yang berusia dua bulan itu tak memiliki harapan untuk tumbuh dan bisa dipanen. Tidak mungkin lagi ada harapan untuk panen nanti. Selain busuk tanaman padi saya ini sudah mengering. Kami babat saja agar segera dapat ditanami kembali, “kata Ranem.
Kekecewaan serupa disampaikan para petani di kecamatan Kwadungan, Geneng maupun kecamatan lain. Sebab, hamper seluruh tanaman mereka puso, yang ditandai dengan tanaman padi membusuk dan mengering. Munib, petani asal Desa Purwosari, Kwadungan, mengaku segera membersihkan lahan pertaniannya dengan cara membabat tanaman padi yang busuk. Hanya, ia juga mengaku saat ini tidak memiliki biaya untuk menanami kembali lahan pertaniannya seluas satu hectare tersebut.
“Lha kalau sekarang saya tebangi dan sekarang saya mengolah lahan lagi, dari mana uang untuk melaksanakan masa tanam kembali? Saya tak memiliki biaya penanaman ulang, yang rata-rata setiap hectare membutuhkan uang Rp. 2 Juta sampai Rp. 3 Juta,” imbuhnya.
|
Diwawancara secara terpisah, ketua penanggulangan pasca banjir yang juga Wakil Bupati Ngawi Budi Soelistyo mengatakan, data Pemkab menunjukkan bahwa persawahan yang diperkirakan rusak mencapai 90.000 hektare. st14
Diterbitkan oleh Jaringan Islam Anti Diskriminasi (JIAD) Jawa Timur Bekerjasama dengan Lakpesdam NU Ngawi dan TIFA Foundation. Redaktur Edisi ini: Satya Serrvi Yunianto, Setyo Utomo, Ridwan Syahroni, Musafak choiruddin
|
|
Filed under: buletin